BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Masalah kependudukan merupakan masalah yang penting dalam pembangunan suatu negara. Informasi tentang jumlah penduduk serta komposisi penduduk menurut umur, jenis kelamin, pendidikan, tempat tinggal, pekerjaan penting diketahui terutama untuk mengembangkan perencanaan pembangunan manusia, baik itu pembangunan ekonomi, sosial, politik, lingkungan dan lain-lain yang terkait dengan peningkatan kesejahteraan manusia.
Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk keempat terbesar di dunia. Data tentang jumlah penduduk dapat diketahui dari hasil Sensus Penduduk (SP). Sensus penduduk yang telah dilakukan selama ini adalah SP 1930, SP 1961, SP 1971, SP 1980, SP 1990, SP 2000, dan yang saat ini sedang berlangsung Sensus Penduduk 2010. Untuk memenuhi kebutuhan data antara dua sensus, Badan Pusat Statistik melaksanakan Survey Penduduk Antar Sensus (Supas) tiap-tiap tahun yang akhiran dengan angka lima, kecuali Supas 1976. Selama ini telah dilaksanakan Supas 1985, Supas 1995 dan yang terakhir adalah Supas 2005 .
Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor merupakan salah satu wilayah desa di Indonesia dengan jumlah penduduk yang padat. Padahal luas wilayah desa tersebut tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang ada. Hal ini tentu saja akan berpengaruh dalam pembangunan di desa tersebut. Oleh sebab itu makalah dengan topik “Analisis Perkembangan Data Kependudukan dan Demografi Penduduk (Kasus Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat Tahun 2008 dan 2009)” ini diangkat untuk mengetahui permasalahan tentang perkembangan kependudukan dan demografi di Desa Situdaun.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belaang yang telah kami uraikan di atas, perumusan masalah yang dapat diidentifikasi adalah:
Bagaimana mekanisme registrasi dan apa saja kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan registrasi penduduk di Desa Situdaun?
Bagaimana perkembangan penduduk Desa Situdaun?
Bagaimana persebaran dan kepadatan penduduk Desa Situdaun?
Bagaimana struktur penduduk Desa Situdaun?

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas adalah:
Mengetahui mekanisme registrasi dan kendala-kendala dalam pelaksanaannya di Desa Situdaun.
Menganalisis perkembangan penduduk yang terjadi di Desa Situdaun.
Menganalisis persebaran dan kepadatan penduduk di Desa Situdaun.
Menganalisis dan menjelaskan struktur penduduk di Desa Situdaun.

Manfaat Penulisan
Makalah ini diharapkan dapat memberikan gambaran kependudukan dan demografi yang terjadi di Desa Situdaun serta manfaat bagi akademisi dalam menambah pengetahuan tentang kependudukan dan sebagai bahan referensi. Selain itu makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pemerintah sebagai pembahasan lebih lanjut dalam hal kependudukan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Demografi
Kependudukan atau demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu .
Sumber-sumber data kependudukan/demografi yang pokok ialah sensus, sistem registrasi kejadian-kejadian vital, registrasi penduduk dan survei-survei terbatas atau survei sampel. Sumber lain sebagai tambahan yang sering berguna adalah catatan-catatan dan dokumen-dokumen instansi pemerintah. Diantara sumber-sumber ini, sensus merupakan sumber data yang paling utama di berbagai Negara, terlebih-lebih di Negara berkembang.

Komponen Demografi
Mortalitas
Mortalitas adalah ukuran jumlah kematian (umumnya, atau karena akibat yang spesifik) pada suatu populasi, skala besar suatu populasi, per dikali satuan. Mortalitas khusus mengekspresikan pada jumlah satuan kematian per 1000 individu per tahun, hingga, rata-rata mortalitas sebesar 9,5 berarti pada populasi 100.000 terdapat 950 kematian per tahun. Mortalitas berbeda dengan morbiditas yang merujuk pada jumlah individual yang memiliki penyakit selama periode waktu tertentu .
Fertilitas
Fertilitas atau kelahiran merupakan salah satu faktor penambah jumlah penduduk disamping migrasi masuk. Kelahiran bayi membawa konsekuensi pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang bayi tersebut, termasuk pemenuhan gizi dan kecukupan kalori, perawatan kesehatan. Pada gilirannya, bayi ini akan tumbuh menjadi anak usia sekolah yang menuntut pendidikan, lalu masuk angkatan kerja dan menuntut pekerjaan. Bayi perempuan akan tumbuh menjadi remaja perempuan dan perempuan usia subur yang akan menikah dan melahirkan bayi .
Migrasi
Migrasi adalah peristiwa berpindahnya suatu organisme dari suatu bioma ke bioma lainnya. Dalam banyak kasus, organisme bermigrasi untuk mencari sumber-sumber cadangan makanan yang baru untuk menghindari kelangkaan makanan yang mungkin terjadi karena datangnya musim dingin atau karena overpopulasi.

Sensus Penduduk dan Sistem Registrasi Penduduk
Sensus diartikan sebagai perhitungan penduduk yang mencakup wilayah suatu negara (Baclay dalam Rusli, 1995). Kegiatan ini dilakukan dengan cara pencacahan langsung ke setiap rumah tangga. Sensus dilakukan antara lain dengan cara:
Sistem de jure, yaitu mencacah penduduk menurut tempat tinggal tetap.
Sistem de facto, yaitu melakukan pencacahan di tempat orang tersebut ditemukan saat pelaksanaan sensus.
Sistem kombinasi dari keduanya.
Sistem registrasi penduduk dipelihara oleh pemerintah setempat dengan pencatatan kelahiran, kematian, adopsi, perkawinan, perceraian, perubahan pekerjaan, perubahan nama, dan perubahan tempat tinggal.

Permasalahan Demografi
Mukhlason (2010) mengidentifikasi beberapa permasalahan demografi, antara lain:
Sebaran Migrasi dan Profesi
Dalam hal ini Mukhlason memberi gambaran bahwa kebanyakan masyarakat dari desa bermigrasi ke kota karena lapangan pekerjaan di kota lebih banyak dari pada di desa. Dari gambaran ini terlihat adanya ketidakmerataan sebaran penduduk akibat migrasi serta adanya ketidakmerataan jumlah lapangan pekerjaan antara kota dan desa.
Kendala Kependudukan
Akibat adanya migrasi dari desa ke kota, desa mengalami kelangkaan jumlah penduduk. Hal ini menjadi penyebab lambatnya pembangunan dan kenaikan tingkat kesejahteraan. Rumah tangga yang dahulunya memiliki warga rata-rata 5 orang, kini semakin berkurang seiring semakin dewasanya anak-anak. Dengan fasilitas pendidikan yang terbatas serta fasilitas untuk mencari penghidupan yang sedemikian rupa, orang tua yang berorientasi pada masa depan selalu mengirimkan anak-anaknya untuk mencari ilmu dan nafkah di daerah lain yang memungkinkan.
Selain terbatasnya fasilitas, keberhasilan program Keluarga Berencana yang digalakkan pada masa orde baru cukup memberi andil pada pengurangan jumlah penduduk. Permasalahan lain, adalah semakin banyaknya populasi lansia yang tidak diimbangi oleh penduduk usia produktif. Ini berakibat pada semakin berkurangnya tenaga-tenaga yang biasa mengerjakan profesi pertanian dan perkebunan. Padahal rata-rata penduduk desa memiliki lahan perumahan, perkebunan atau persawahan yang tentunya tidak bisa dikerjakan sendiri.
Konversi Lahan
Lahan yang dulunya digunakan untuk lahan pertanian, saat ini telah beralih fungsi menjadi lahan pemukiman dan industri. Dengan keterbatasan jumlah lahan, manusia semakin kesulitan memenuhi kebutuhannya, terutama kebutuhannya akan pangan. Hal ini dikarenakan lahan yang tadinya berupa sawah, ladang, dan perkebunan telah dialihfungsikan. Hal ini sesuai dengan hukum Maltus yang berbunyi
“Penduduk cenderung tumbuh secara “deret ukur” (misalnya, dalam lambang 1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya) sedangkan persediaan makanan cenderung bertumbuh secara “deret hitung” (misalnya, dalam deret 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan seterusnya). Dalam terbitan belakangan Malthus berkata bahwa penduduk cenderung bertumbuh secara tak terbatas hingga mencapai batas persediaan makanan. Malthus berkesimpulan bahwa kuantitas manusia akan kejeblos ke dalam kemiskinan dan kelaparan”

Usaha-usaha Pemerintah Mengatasi Pertambahan Penduduk
Program KB
Keluaga Berencana adalah suatu program yang dilaksanakan untuk membangun keluarga yang sejahtera dengan jalan mengurangi angka kelahiran anak. Adapun anjuran KB adalah dengan memiliki dua anak, baik laki-laki maupun perempuan. Program KB dimaksudkan untuk menekan laju pertambahan penduduk. Dalam pengertian secara efektif untuk mencegah kehamilan. Dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi.
Sosialisasi Perencanaan Pernikahan yang Matang
Meningkatnya usia kawin dan kemajuan pendidikan mempengaruhi pula pertambahan penduduk di Indonesia. Semakin rendah usia kawin seorang wanita maka semakin tinggi tingkat fertilitasnya, sedangkan semakin tinggi usia kawin seorang wanita maka akan semakin rendah tingkat fertilitasnya.
Faktor paling dominan dalam meningkatnya usia pernikahan/perkawinan adalah meningkatnya pendidikan kaum wanita. Pendidikan mempengaruhi pola pergaulan, pemilihan jodoh, dan umur perkawinan. Semakin tinggi pendidikan seorang wanita maka mereka akan berpikir matang untuk melakukan pernikahan, mereka tidak lagi takut ketinggalan dalam hal karier dengan kaum pria, tidak lagi takut dengan anggapan tidak laku dan mereka akan tegas pula dalam pengambilan keputusan apabila wanita tersebut sudah menikah.
Sosialisasi Kepada Kaum Remaja Tentang “SAY NO FREE SEX”
Sejalan dengan perubahan-perubahan sosial, ekonomi, politik, dan komunikasi dewasa ini, terjadi perubahan-perubahan mengenai perilaku sex dan norma-norma sex. Di Indonesia secara umum kecenderungan ke arah yang lebih permisif dalam hal sex, baik remaja maupun golongan umur yang lebih tinggi terus berlangsung, baik di tingkat individu dan masyarakat. Konsekuensi dari hal itu adalah remaja pada masa kini jauh lebih banyak mendapatkan rangsangan sex daripada remaja 10 tahun yang lalu. Maka pemerintah mengadakan tindakan sosialisasi ke SMP dan SMA yang ada di Indonesia, tentang apa itu free sex, dan bahaya-bahayanya bagi remaja.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang kami lakukan adalah penelitian kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif yang kami gunakan adalah melakukan wawancara terhadap orang-orang yang kami anggap memiliki informasi mengenai objek penelitian kami. Selain itu, kami juga menggunakan metode kuantitatif dengan menganalisis data-data kependudukan yang kami peroleh dari wawancara.

Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Situdaun Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat pada tanggal 26 Mei 2010.

Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui analisis hasil wawancara sedangkan data sekunder diperoleh dengan menelusuri beberapa studi pustaka berupa artikel, data statistik, internet, dan literatur yang berhubungan dalam menganalisis data kependudukan yang telah diperoleh di lapangan.

Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang dilakukan adalah menghitung data yang telah diperoleh sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan telah ditetapkan. Setelah itu hasil perhitungan dianalisis dan disesuaikan dengan teori yang telah ada. Kemudian hasil analisis tersebut kami jadikan laporan dan diubah dalam bentuk tertentu agar lebih mudah menggambarkan hasil penelitian.

BAB IV
PEMBAHASAN

Gambaran Umum Desa Situdaun
Desa Situdaun terletak di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:
Luas Desa : 329,045 Ha
Terdiri atas:
Darat : 159,000 Ha
Sawah :170,045 Ha
Batas Wilayah
Sebelah Utara : Kecamatan Ciampea
Sebelah Selatan : Desa Gunung Malang
Sebelah Timur : Kecamatan Darmaga
Sebelah Barat : Desa Cibitung

Ketersediaan Data dan Sistem Registrasi Penduduk Desa Situdaun
Tenjolaya adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Tenjolaya merupakan kecamatan hasil pemekaran dengan Kecamatan Ciampea pada tahun 2004, di dalam Kecamatan Tenjolaya terdapat suatu desa yang bernama Situdaun. Ketersedian data penduduk Desa Situdaun merupakan hasil dari proses wawancara yang di himpun melalui RT RW setempat. Ketersedian data juga diperoleh berdasarkan laporan dari instansi terkait seperti artikerl, data statistik, internet, leteratur serta data yang disiapkan dari berbagai sumber.
Sistem registrasi penduduk Desa Situdaun baik lokal maupun pendatang harus melapor kepada RT setempat, setelah itu melaporkan hasil registrasi ke kantor kelurahan Desa Situdaun. Tidak hanya registrasi penduduk desa yang datang ke Desa Situdaun, akan tetapi masyarakat yang keluar dari desa tersebut pun diwajibkan melapor ke kantor kelurahan desa. Masyarakat yang melahirkan dan yang meninggal dunia pun melapor, sehingga data jumlah penduduk di desa tersebut terpantau oleh kelurahan desa.

Data Penduduk
Data Penduduk Desa Situdaun Tahun 2008 dan 2009
Tabel 1. Data Jumlah Penduduk Desa Situdaun Menurut Golongan Umur Tahun 2008 (dalam jiwa)
Usia Laki-Laki Perempuan % L % P Jumlah L&P ∑ Kumulatif
0-4 287 290 3,4% 3,4% 577 577
5-9 268 282 3,1% 3,3% 550 1127
10-14 271 296 3,2% 3,5% 567 1694
15-19 448 396 5,2% 4,6% 844 2538
20-24 271 310 3,2% 3,6% 581 3119
25-29 327 364 3,8% 4,3% 691 3810
30-34 381 375 4,5% 4,4% 756 4566
35-39 389 330 4,5% 3,9% 719 5285
40-44 362 304 4,2% 3,6% 666 5951
45-49 297 293 3,5% 3,4% 590 6541
50-54 294 313 3,4% 3,7% 607 7148
55-59 332 335 3,9% 3,9% 667 7815
60-64 191 126 2,2% 1,5% 317 8132
65-69 178 112 2,1% 1,3% 290 8422
70-74 63 45 0,7% 0,5% 108 8530
75+ 14 11 0,2% 0,1% 25 8555
Jumlah 4373 4182 51,1% 48,9% 8555
Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 2. Data Jumlah Penduduk Desa Situdaun Menurut Golongan Umur Tahun 2009 (dalam jiwa)
Usia Laki-Laki Perempuan % L % P Jumlah L&P ∑ Kumulatif
0-4 351 357 4,1% 4,2% 708 708
5-9 296 382 3,4% 4,4% 678 1386
10-14 329 375 3,8% 4,3% 704 2090
15-19 380 357 4,4% 4,2% 737 2827
20-24 371 394 4,3% 4,6% 765 3592
25-29 357 360 4,2% 4,2% 717 4309
30-34 334 330 3,9% 3,9% 664 4973
35-39 426 274 5,0% 3,2% 700 5673
40-44 268 223 3,1% 2,6% 491 6164
45-49 289 211 3,4% 2,5% 500 6664
50-54 138 173 1,6% 2,0% 311 6975
55-59 335 359 3,9% 4,2% 694 7669
60-64 250 228 2,9% 2,7% 478 8147
65-69 162 118 1,9% 1,4% 280 8427
70-74 79 74 1,0% 0,8% 153 8580
75+ 15 6 0,1% 0,2% 21 8601
Jumlah 4380 4221 8601
Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 3. Data Penduduk Desa Situdaun Berdasarkan Kejadian Demografi Penduduk
Kejadian Demografi Tahun 2008 Tahun 2009
Kelahiran 63 orang 25 orang
Kematian 10 orang 16 orang
Imigrasi 8 orang 10 orang
Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 4. Data Penduduk Desa Situdaun Berdasarkan Agama
Agama Tahun 2008 Tahun 2009
Islam 8550 8579
Katholik 2 2
Protestan 2 -
Hindu - -
Budha - -
Khonghucu 1 -
Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Tabel 5. Data Kependudukan Desa Situdaun Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Tahun 2008 Tahun 2009
TK 145 orang 160 orang
SD/MI 1541 orang 2789 orang
MTS/SLTP 926 orang 1668 orang
MA/SLTA 903 orang 895 orang
D2/D3 74 orang 31 orang
S1/Sarjana 21 orang 18 orang
Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Terlihat jelas bahwa masyarakat Desa Situdaun tidak banyak yang mengenyam pendidikan tinggi. Dari tabel, sebanyak 2789 masyarakat Desa Situdaun yang mengenyam pendidikan sampai SD.

Tabel 6. Data Kependudukan Desa Situdaun Berdasarkan Mata Pencaharian
Mata Pencaharian Tahun 2008 Tahun 2009
PNS 26 orang 26 orang
ABRI 2 orang 2 orang
Wiraswasta 201 orang 160 orang
Tani 275 orang 275 orang
Buruh Tani 480 orang 312 orang
Pertukangan 37 orang 36 orang
Pensiunan 21 orang 17 orang
Jasa 4 orang 14 orang
Lain-lain 121 orang 429 orang
Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2008 dan 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Hasil wawancara yang kami dapatkan dari pengurus kelurahan desa bahwa mata pencaharian di Desa Situdaun kebanyakan adalah seorang buruh petani. Cukup banyak sawah di desa tersebut, meskipun sudah banyak desa yang dibangun rumah-rumah penduduk, akan tetapi sawah disana kebanyakan bukan milik warga setempat, akan tetapi milik masayarakat kota diluar masyarakat Desa Situdaun. Masyarakat Desa Situdaun bekerja di sawah hanya seabagi buruh tani saja, karena sawah yang mereka garap bukanlah sawah mereka, akan tetapi ada juga beberapa warga desa yang memiliki sawah di Desa tersebut. Namun, banyak juga pemuda desa yang bekerja sebagai pengrajin, contohnya pengrajin anyaman bambu.

Tabel 7. Data Kependudukan Desa Situdaun Berdasarkan Etnis
Etnis Laki-Laki Perempuan
Batak 3 orang 1 orang
Betawi 1 orang 1 orang
Sunda 4362 orang 4175 orang
Jawa 6 orang 4 orang
Sumber: Data Monografi Desa Situdaun, Tahun 2009 (diolah oleh Pemerintah Desa Situdaun, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor)

Analisis Perkembangan Penduduk Desa Situdaun
Penduduk Desa Situdaun dalam perkembangannya mengalami sedikit peningkatan.
Tahun 2008
Reit Kematian Kasar:
CDR= (∑▒〖kematian penduduk tahun 2008〗)/(∑▒〖penduduk tengah tahun〗) x 1000
= 10/8555 x 1000
= 1,17
= 2
Jadi, dalam 1000 orang penduduk pada tahun 2008 terdapat 2 orang yang meninggal.
Reit Kelahiran Kasar
CBR= (∑▒〖kelahiran penduduk tahun 2008〗)/(∑▒〖penduduk tengah tahun〗) x 1000
=63/8555 x 1000
= 7,36
= 8
Jadi, dalam setiap 1000 orang penduduk pada tahun 2008 terdapat kelahiran sebanyak 8 orang.
Proporsi wanita Dalam presentase = 0,489 x 100 %
P = (∑▒〖penduduk wanita〗)/(∑▒〖penduduk total〗) = 48,9%
= 4182/8555
= 0,489
Rasio anak wanita
RAW =(∑▒〖penduduk umur 0-4 tahun〗)/(∑▒〖penduduk perempuan umur 15-49 tahun〗) x 100
= 577/4847 x 100
= 11,9
=12
Jadi, dari setiap 100 orang perempuan usia subur terdapat 12 orang anak.
Rasio beban tanggungan
RBT = (∑▒〖penduduk usia 〗 0-14 tahun dan usia 65 tahun keatas)/(∑▒〖penduduk usia 15-64 tahun〗) x 100
=(1694+423)/6438 x 100
= 2117/6438 x 100
= 32,88
= 33
Jadi, dalam 100 penduduk usia produktif menanggung 33 penduduk usia non produktif.
Umur median
UM = Bum+ □(p/2- fxkm)/fm x k
=30 +(8555/2-3810)/756 x 5
=30 + (4277,5-3810)/756 x 5
=30 + 467,5/756 x 5
=30 + 3,09
= 33,09
Tahun 2009
Reit Kematian Kasar:
CDR= (∑▒〖kematian penduduk tahun 2009〗)/(∑▒〖penduduk tengah tahun〗) x 1000
=16/8601 x 1000
=1,86 = 2
Jadi, dalam 1000 orang penduduk pada tahun 2009 terdapat 2 orang yang meninggal.
Reit Kelahiran Kasar
CBR= (∑▒〖kelahiran penduduk tahun 2009〗)/(∑▒〖penduduk tengah tahun〗) x 1000
=25/8601 x 1000
= 2,907 = 3
Jadi, dalam setiap 1000 orang penduduk pada tahun 2009 terdapat 3 kelahiran sebanyak orang.
Proporsi wanita Dalam presentase = 0,49 x 100 %
P = (∑▒〖penduduk wanita〗)/(∑▒〖penduduk total〗) = 49%
= 4221/8601
= 0,490757 = 0,49
Rasio anak wanita
RAW =(∑▒〖penduduk umur 0-4 tahun〗)/(∑▒〖penduduk perempuan umur 15-49 tahun〗) x 100
= 708/4574 x 100
= 15,48
= 16
Jadi, dari setiap 100 orang perempuan usia subur terdapat 16 orang anak.
Rasio beban tanggungan
RBT = (∑▒〖penduduk usia 〗 0-14 tahun dan usia 65 tahun keatas)/(∑▒〖penduduk usia 15-64 tahun〗) x 100
=(2090+382)/6057 x 100
= 2472/6057 x 100
= 40,8
= 41
Jadi, dalam 100 penduduk usia produktif menanggung 41 penduduk usia non produktif.
Umur median
UM = Bum+ □(p/2- fxkm)/fm x k
=25 +(8601/2-3592)/717 x 5
=25 + (4300,5-3592)/717 x 5
=25 + 708,5/717 x 5
=25 + 4,94
= 29,94

Reit Perkembangan Penduduk Desa Situdaun tahun 2008 dan 2009
Pt = Po (1+r)t Pt =jumlah penduduk pada akhir periode t
8601 = 8555 (1+r)1 Po=jumlah penduduk pada awal periode t
0,005377= r r =reit perkembangan penduduk per tahun
r = 0,54%
Reit pertumbuhan penduduk dari tahun 2008 sampai 2009 adalah 0,54%. Hal itu membuktikan bahwa desa tersebut mengalami pertumbuhan penduduk sebesar 0,54% per tahun.

Analisis Persebaran dan Kepadatan Penduduk Desa Situdaun
Berdasarkan data yang telah kami peroleh maka persebaran penduduk Desa Situdaun pada tahun 2008 dan 2009 berdasarkan jenis kelamin adalah:
Rasio Jenis Kelamin pada tahun 2008 secara keseluruhan adalah:
RJK =(∑▒〖laki-laki tahun 2008〗)/(∑▒〖perempuan tahun 2008〗) x 100
=4373/4182 x 100
=104,56
=105
Jadi, setiap 100 orang perempuan terdapat 105 orang laki-laki di Desa Situdaun pada tahun 2008.
Rasio Jenis Kelamin pada tahun 2008 berdasarkan interval usia adalah:
RJK0-4 =(∑▒〖laki-laki 0-4〗)/(∑▒〖perempuan 0-4〗) x 100 =287/290 x 100 =98,96 =99
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 0-4 terdapat 99 laki-laki.
RJK5-9 =(∑▒〖laki-laki 5-9〗)/(∑▒〖perempuan 5-9〗) x 100 =268/282 x 100 =95,03 =96
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 5-9 terdapat 96 laki-laki.
RJK10-14 =(∑▒〖laki-laki 10-14〗)/(∑▒〖perempuan 10-14〗) x 100 =271/296 x 100 =91,55 =92
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 10-14 terdapat 92 laki-laki.
RJK15-19 =(∑▒〖laki-laki 15-19〗)/(∑▒〖perempuan 15-19〗) x 100 =448/396 x 100 =113,13 =114
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 15-19 terdapat 114 laki-laki.
RJK20-24 =(∑▒〖laki-laki 20-24〗)/(∑▒〖perempuan 20-24〗) x 100 =271/310 x 100 =87,41 =88
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 20-24 terdapat 88 laki-laki.
RJK25-29 =(∑▒〖laki-laki 25-29〗)/(∑▒〖perempuan 25-29〗) x 100 =327/364 x 100 =89,83 =90
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 25-29 terdapat 90 laki-laki.
RJK30-34 =(∑▒〖laki-laki 30-34〗)/(∑▒〖perempuan 30-34〗) x 100 =381/375 x 100 =101,6 =102
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 30-34 terdapat 102 laki-laki.
RJK35-39 =(∑▒〖laki-laki 35-39〗)/(∑▒〖perempuan 35-39〗) x 100 =389/330 x 100 =117,87 =118
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 35-39 terdapat 118 laki-laki.
RJK40-44 =(∑▒〖laki-laki 40-44〗)/(∑▒〖perempuan 40-44〗) x 100 =362/304 x 100 =98,96 =120
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 40-44 terdapat 120 laki-laki.
RJK45-49 =(∑▒〖laki-laki 45-49〗)/(∑▒〖perempuan 45-49〗) x 100 =297/293 x 100 =101,36 =102
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 45-49 terdapat 102 laki-laki.
RJK50-54 =(∑▒〖laki-laki 50-54〗)/(∑▒〖perempuan 50-54〗) x 100 =294/313 x 100 =93,92 =94
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 50-54 terdapat 94 laki-laki.
RJK55-59 =(∑▒〖laki-laki 55-59〗)/(∑▒〖perempuan 55-59〗) x 100 =332/335 x 100 =98,96 =100
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 55-59 terdapat 100 laki-laki.
RJK60-64 =(∑▒〖laki-laki 0-4〗)/(∑▒〖perempuan 0-4〗) x 100 =191/126 x 100 =98,96 =99
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 60-64 terdapat 99 laki-laki.
RJK65-69 =(∑▒〖laki-laki 65-69〗)/(∑▒〖perempuan 64-69〗) x 100 =178/112 x 100 =158,92 =159
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 65-69 terdapat 159 laki-laki.
RJK70-74 =(∑▒〖laki-laki 0-4〗)/(∑▒〖perempuan 0-4〗) x 100 =63/45 x 100 =140
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 70-74 terdapat 140 laki-laki.
RJK75+ =(∑▒〖laki-laki 75+〗)/(∑▒〖perempuan 75+〗) x 100 =14/11 x 100 =127,27 =128
Jadi, dari setiap 100 perempuan pada usia produktif 75+ terdapat 128 laki-laki.

Pesebaran penduduk di Desa Situdaun dari data yang diperoleh terdapat 8555 warga tersebar dalam 329,045 Ha/m2 dari luas daerah Desa tersebut. Terlihat bahwa kepadatan penduduk di Desa Situdaun cukup padat. Seperti yang kami lihat saat berada di desa tersebut, rumah-rumah disana begitu berimpit dan luasnya tidak besar. Kebersihan di desa tersebut pun kurang terjaga, karena terlalu banyak penduduk dan rumah-rumah yang tidak tersusun rapih sehingga pemukiman terlihat sedikit kumuh.

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KELANGKAAN AIR DI BUMI

Disusun Oleh :

Gita Widya Ratna Kemala    (H14080063)

Yulinda Nasti                        (H34080036)

Yessy Marga S.                      ( I34080024 )

Dosen Praktikum : Kastana Sapanli. S.Pi., M. Si.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. Latar Belakang

Air sangat penting bagi makhluk hidup, termasuk manusia. Manusia memanfaatkan air untuk keperluan sehari-hari seperti untuk mandi, mencuci, dan lain-lain. Termasuk juga untuk kepentingan konsumsi, yaitu sebagai  air minum. Namun diperkotaan sekarang ini cukup sulit dan mahal untuk memperoleh air bersih. Dengan kondisi air bersih diperkotaan yang katanya “Bersih”, masyarakat kota cenderung tidak berani mengambil resiko untuk mengkonsumsi hasil olahan air perkotaan. Hal ini disebabkan oleh adanya pencemaran lingkungan yang ikut berperan dalam pencemaran air bersih sehingga tidak layak dikonsumsi. Padahal, air merupakan karunia Tuhan yang harus dikelola secara bijaksana dengan memperhatikan kepentingan generasi sekarang dan mendatang serta keseimbangan ekologis agar tidak menjadi bencana bagi umat manusia.

Tidak hanya di kota, masyarakat di daerah pedalaman seperti Papua dan NTB pun kesulitan mendapatkan air untuk dikonsumsi. Hal ini disebabkan oleh distribusi air di permukaan bumi yang tidak merata. Pada daerah tersebut, sumber air sangat sedikit dan jauh dari pemukiman sehingga menimbulkan kekeringan bagi warga setempat.

Permasalahan mengenai air bersih ini tentunya wajib menjadi sorotan utama karena sepanjang sejarah peradaban manusia tak pernah lepas dari peranan air sebagai sumber kehidupan dan penghidupan. Demikian halnya pengelolaan sumberdaya air, dari waktu ke waktu berkembang seiring dengan tingkat peradaban manusia, yang tercermin dalam nilai budaya setempat. Oleh sebab itulah tema ini diangkat dalam rangka menyadarkan kita akan pentingnya menghemat air bersih.

  1. B. Perumusan Masalah
  2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kelangkaan air bersih/tawar?
  3. Bagaimana cara mengatasi kelangkaan air bersih?
  4. C. Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini antara lain adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelangkaan air bersih dan cara mengatasinya.

  1. D. Manfaat

Makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi ilmu pengetahuan berupa pengetahuan tentang pemanfaatan air secara hemat untuk mengatasi kelangkaan, serta bermanfaat bagi masyarakat dalam memudahkan dan mengefektifkan penggunaan air.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam rangka untuk memahami dampak dari privatisasi air, sangat penting untuk memahami bagaimana cara menemukan air bersih dan air tawar. Hal ini bertujuan untuk menggambarkan bagaimana sedikitnya air tawar yang ada di seluruh dunia, dan juga untuk menunjukkan pentingnya air untuk semua budaya di seluruh dunia. Dengan memahami sifat dari siklus air global, dan penting bagi semua bangsa, kita dapat memahami mengapa air tidak dapat diperlakukan sebagai komoditas, tapi hanya sebagai kebutuhan untuk semua kehidupan.

Siklus air adalah proses di mana air tawar diproduksi. Itu dibedakan menjadi beberapa tahapan yang berbeda. Menurut Department of Atmospheric Sciences di Universitas Illinios di Urbana-Champaign, “Siklus hidrologi dimulai dengan penguapan air dari permukaan laut. Seperti udara lembab diangkat, mendingin dan uap air mengembun membentuk awan. uap air yang diangkut di seluruh dunia sampai kembali ke permukaan sebagai presipitasi. Setelah air mencapai tanah, salah satu dari dua proses mungkin terjadi: 1) sebagian air dapat menguap kembali ke atmosfir, atau 2) air dapat menembus permukaan dan menjadi air tanah. Air tanah baik dengan cara merembes ke laut, danau, dan sungai, atau dilepaskan kembali ke atmosfer melalui transpirasi. Neraca air yang tersisa di permukaan bumi adalah air hujan, yang bermuara danau, sungai, dan sungai dan dibawa kembali ke lautan, di mana siklus dimulai lagi.” (Universty of Illinois WW2010 project).

Fakta dan Angka Mengenai Air Bersih di Dunia

  • Air meliputi 75% dari permukaan bumi. Jumlah total air di bumi hampir sama dari tahun ke tahun berikutnya, seperti yang beredar di antara lautan, tanah dan atmosfir dalam siklus penguapan dan curah hujan. Siklus hidrologis ini merupakan dasar bagi berfungsinya bumi sebagai pendaur ulang air, dan memiliki peran dalam memodifikasi dan mengatur iklim bumi.
  • Hampir 98% dari air bumi adalah lautan. Air tawar berjumlah kurang dari 3% air di bumi, dan lebih dari dua pertiga dari ini berada dalam bentuk es di kutub dan gletser. Danau air tawar dan sungai-sungai hanya 0,009% dari air di bumi dan air tanah berjumlah lebih dari 0,28%.
  • Air sangat penting bagi semua bentuk kehidupan. Sebagai contoh, air merupakan 60-70% berat tubuh organisme hidup dan sangat penting untuk fotosintesis. Kelangsungan hidup dari semua kehidupan di Bumi terutama ditentukan oleh adanya air, yang tidak merata di planet ini. (BBC Science & Nature Homepage).

Tampaknya fakta yang paling relatif adalah bahwa sementara tiga-perempat permukaan bumi dipenuhi air, kurang dari satu persen (0,37% tepatnya) merupakan air tawar. Selain itu air tanah, yang mana kita pompa dari sumur, hanya menyumbang 0,28% dari air tawar di seluruh dunia.

Budaya & Keagamaan SignifikanAir

Bagaimanapun kita tidak bisa hanya menentukan air sebagai komoditas yang akan dinilai dan dijual. Air adalah hak asasi manusia dan sesuatu yang penting bagi semua budaya di seluruh dunia. Hal ini dianggap suci sebagai sumber kehidupan, dan sebagai agen memurnikan dalam banyak agama. Setiap agama memiliki semacam keyakinan atau praktik yang melibatkan air, memberikan posisi terhormat, atau bahkan posisi suci dalam banyak ritual. Air merupakan pusat dari praktik keagamaan dari semua masyarakat adat serta kepercayaan utama agama-agama dunia.

Buddhisme-rahib Buddha menuangkan air ke dalam sebuah mangkuk sebelum mayat dan biarawan lain hadir di pemakaman.

Christianity-Air digunakan dalam ritus pembaptisan, deklarasi publik dan penerimaan iman; seorang individu dapat disiram dengan air atau tenggelam, atau di antaranya. Air melambangkan pemurnian dan penolakan terhadap Dosa. Dalam Perjanjian Baru “air hidup” atau “air kehidupan” mewakili Roh Allah, dan kehidupan kekal.

Hindu-Air melambangkan pemurnian rohani untuk Hindu, di mana mandi adalah ritual pagi. Sering kali ada ziarah ke salah satu dari tujuh sungai suci di India: Gangga, Godavari, Kaveri, Narmada, Saraswati, Sindhu dan Yamuna. Air juga digunakan dalam upacara pemakaman.

Islam-Bagi umat Muslim, air berfungsi sebagai sarana kunci pemurnian, atau pembersihan jiwa. Ada tiga macam pembasuhan: Yang pertama dan paling penting mencuci melibatkan seluruh tubuh; itu adalah wajib setelah berhubungan seks, dan disarankan sebelum salat Jumat dan sebelum menyentuh Quran. Kedua, sebelum masing-masing dari umat Islam salat lima waktu, kepala mereka harus dibasuh, mencuci tangan, lengan dan kaki. Semua masjid menyediakan sumber air, biasanya sebuah air mancur untuk wudhu. Ketika air langka, pengikut Islam menggunakan pasir untuk membersihkan diri, inilah bentuk ketiga dari wudhu.

Yudaisme-orang Yahudi menggunakan air untuk upacara pembersihan, untuk mengembalikan atau mempertahankan keadaan suci. Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan adalah wajib. Meskipun ritual mandi, atau mikveh, pernah sangat penting dalam masyarakat Yahudi, sekarang tidak begitu. Namun, mereka tetap wajib untuk bertobat. Pria menghadiri mikveh pada hari Jumat dan sebelum perayaan besar, para wanita menghadiri mikveh sebelum pernikahan mereka, setelah melahirkan dan setelah menstruasi. Kitab pertama Alkitab, Kejadian, menceritakan kisah Penciptaan dan Banjir Besar. Menghukum manusia untuk ketidaktaatan mereka, Allah mengirim hujan lebat ke atas bumi, selama empat puluh hari empat puluh malam. Aman di bahtera, Nuh, keluarganya, dan dua dari setiap jenis binatang saja yang diampuni. Banjir menghanyutkan dosa dunia sehingga bisa dilahirkan kembali, bebas dari kotoran.

BAB III

PEMBAHASAN

Kelangkaan adalah bahwa sesuatu yang kita butuhkan lebih sedikit jumlahnya daripada jumlah yang tersedia. Contoh kondisi ini dapat dilihat pada sumberdaya air. Perlu diketahui bahwa dari 100% jumlah air yang ada di bumi 97% nya adalah air laut yang tidak bisa dikonsumsi karena kadar garamnya yang tinggi, sedangkan total air yang dapat diminum hanyalah 2,5% dari total yang ada di dunia. Kelangkaan akan air bersih ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adanya pencemaran industri, kurangnya penghijauan, dan adanya konversi ruang terbuka hijau menjadi kawasan budidaya. Kekurangan air dapat dikendalikan dengan pengelolaan sumberdaya air sejak hulu (daerah imbuhan air tanah) hingga hilir (pemanfaatan air). Pengelolaan sumberdaya air tidak lepas dari budaya yang berkembang di masyarakat.
Pada peringatan Hari Air Dunia tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA), yang meliputi 6 komponen, yaitu:

  • Penataan ruang, pembangunan fisik, pertanahan dan kependudukan;
  • Rehabilitasi hutan dan lahan serta konservasi sumber daya air;
  • Pengendalian daya rusak air;
  • Pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air;
  • Penghematan penggunaan dan pengelolaan permintaan air;
  • Pendayagunaan sumber daya air secara adil, efisien, dan berkelanjutan.

Berkaitan dengan itu, perlu dikembangkan budaya masyarakat Indonesia untuk menjaga kelestarian sumber air. Perilaku yang perlu menjadi budaya di tengah masyarakat adalah kesadaran akan pentingnya penghematan sumberdaya alam, penghematan sumberdaya air, tidak mencemari air, pemanfaatan air hujan, dan peresapan air hujan ke dalam tanah. Selain itu perlunya juga perubahan pola fakir masyarakat tentang pandangannya terhadapa air sebagai barang bebas. Setiap orang sudah seharusnya memandang air sebagai barang ekonomi, bukan lagi sebagai barang bebas. Sebagaimana tercantum pada UU 7/2004 bahwa setiap orang atau badan hukum yang memanfaatkan air mempunyai kewajiban untuk melakukan konservasi. Yang dimaksud dengan upaya konservasi yaitu upaya pengelolaan akan air agar pemanfaatannya tetap berada dalam asas berkelanjutan dan kelestarian. Berikut akan dijabarkan lebih lanjut tentang bagaimana usaha-usaha atau cara-cara untuk mengatasi kelangkaan akan air bersih.

Penghematan Sumberdaya Air

Hemat air, hemat biaya. Tentu slogan ini cukup beralasan. Mari kita perhatikan proses tersedianya air di hadapan kita. Banyak sekali biaya dan energi yang terbuang, mulai dari investasi bangunan air (waduk, sungai, dam, dan sebagainya), penggunaan listrik dan pompa, pemakaian bahan kimia, investasi bangunan pengolahan air, investasi jaringan pipa air, dan biaya operasi dan perawatan sistem penyediaan air. Bila setiap orang melakukan langkah penghematan air, akan banyak biaya yang dapat dihemat dan pelayanan air bersih dapat diperluas kepada masyarakat yang selama ini belum menikmati pelayanan air bersih.

Upaya nyata dalam penghematan air misalnya mencuci mobil seperlunya. Kalau kotoran di mobil bisa dibersihkan tanpa dicuci, mengapa harus dicuci. Banyak sekali contoh lain upaya penghematan yang dapat dilakukan masyarakat.Alasan penghematan air tentu bukan sekadar untuk penghematan biaya. Tapi yang lebih penting dari itu adalah penghematan cadangan air di sumber-sumber air. Penghematan sumber air berimplikasi penting bagi kelestarian air sehingga penyediaan air bersih akan tetap sustainable sepanjang waktu. Kampanye hemat air harus terus dilakukan dengan berbagai media. Peran dan prakarsa dapat diambil oleh pemerintah, pengelola sumberdaya air dan instansi suplai air bersih, masyarakat dan LSM. Pendidikan mengenai air dan lingkungan merupakan bagian utama dalam kampanye kepedulian konservasi lingkungan. Tema-tema kampanye perlu dipilih yang menarik dan menyentuh hati masyarakat. Sebagai contoh poster kampanye hemat air di Singapura: “90 liter air bersih mengalir terus menerus untuk mencuci rambut dengan sampo selama 10 menit. Air sebanyak itu cukup untuk mengisi sebuah botol minuman anak yang kehausan selama 25 minggu”.

Perbaikan Kualitas Air

Setiap aktifitas manusia pasti menghasilkan limbah yang secara langsung atau tidak, akan mencemari perairan. Budaya yang mengakar cukup kuat di tengah masyarakat adalah menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan. Air bekas mandi, cuci, sampah, limbah industri semuanya dibuang ke sungai. Memang, sulit sekali mengubah budaya ini. Upaya yang mungkin dilakukan adalah meminimumkan jumlah limbah dan mengolah limbah hingga ke tingkat yang aman dan tidak mencemari perairan. Pengolahan limbah dapat dilakukan oleh industri dan masyarakat dengan dukungan pemerintah. Dalam skala kecilpun (misal rumah tangga), pengolahan limbah dapat dilakukan. Banyak teknologi pengolahan limbah sederhana dan tepat guna yang dapat dipilih.

Kualitas perairan yang baik akan menguntungkan banyak pihak. Instalasi penjernihan air akan lebih mudah dalam mengolah air, masyarakat dapat memanfaatkan air tanpa khawatir terkena penyakit, ikan akan hidup dengan baik, pemerintah dapat mengembangkan wisata air, dan banyak lagi manfaat yang diperoleh.

Pemanfaatan Air Hujan

Air hujan merupakan air gratis dari langit yang tidak banyak dimanfaatkan. Barangkali, ide pemanfaatan air hujan dianggap sesuatu yang aneh di Surabaya. Tapi bila hal ini dilakukan, maka cukup besar manfaat yang akan diperoleh; penghematan sumberdaya air, penghematan pemakaian air PDAM, mengurangi kemungkinan banjir dan sebagainya.

Selama ini, air bersih dari PDAM digunakan untuk minum, mandi, cuci, menggelontor kloset, membersihkan lantai, menyiram tanaman, mengisi kolam dan lain-lain. Untuk sekadar menggelontor kloset, menyiram tanaman, atau mengisi kolam ikan, tidak perlu air dengan kualitas seperti air minum. Di sinilah air hujan dapat menggantikan air PDAM. Setiap rumah, kantor, hotel, industri dapat membuat bak penampung air hujan dan digunakan untuk keperluan di atas. Pada musim kemarau, bila cadangan air hujan telah habis dapat diganti dengan air tanah atau yang lain.

Sebagai gambaran betapa besar penghematan air PDAM bila air hujan digunakan untuk penggelontoran kloset. Penggunaan air di hotel untuk penggelontoran sekitar 30 liter per hari per kamar. Bila jumlah kamar adalah 100 kamar, maka jumlah air yang dapat dihemat adalah 3000 liter per hari atau 90 meter kubik per bulan.

Peresapan Air Hujan

Banjir sering disebabkan oleh daya tampung saluran drainase yang tidak cukup. Memperbesar saluran drainase bukanlah satu-satunya solusi untuk mengatasi maslah banjir ini. Ada cara yang cukup efektif dalam mengatasi masalah ini bila dikerjakan oleh seluruh masyarakat, yaitu setiap rumah wajib membuat sumur resapan untuk meresapkan air hujan yang jatuh di pekarangan rumahnya. Namun upaya ini kurang berjalan baik bila muka air tanah cukup tinggi, seperti di daerah dekat pantai.

Peresapan air hujan ke dalam tanah mampu mengurangi volume limpasan permukaan, sehingga banjir dapat dikurangi. Di sisi lain, upaya ini sangat bermanfaat bagi penambahan cadangan air tanah, sekaligus menghambat intrusi air laut.

BAB IV

PENUTUP

Kesimpulan

Kelangkaan air bersih yang terjadi di bumi dipengararuhi oleh beberapa faktor yakni, adanya pencemaran industri, kurangnya penghijauan, dan konversi ruang hijau terbuka menjadi kawasan industri.

Faktor-faktor yang menyebabkan kelangkaan air ini dapat diatasi dengan :

  1. Penghematan Sumberdaya Air
  2. Perbaikan Kualitas Air
  3. Pemanfaatan Air Hujan
  4. Peresapaan Air Hujan

DAFTAR PUSTAKA

International Year of Water: http://www.wateryear2003.org

United States Geological Survey: http://ga.water.usgs.gov/edu/watercyclegraphichi.html

BBC Science & Nature Homepage:

(http://www.bbc.co.uk/nature/environment/conservationnow/global/freshwater/)

Universty of Illinois WW2010 project: http://ww2010.atmos.uiuc.edu/(Gh)/guides/mtr/hyd/smry.rxml

CBS News: http://www.cbc.ca/news/features/water/

www.usgcrp.gov/usgcrp/ProgramElements/water.htm

http://ga.water.usgs.gov/edu/watercyclesummary.html

http://dels.nas.edu/climatechange/water.shtml

http://www.mnforsustain.org/water_climate_global_water_cycle_study.htm

http://academic.evergreen.edu/g/grossmaz/murphymw/

http://www.crces.org/research_gwc.php

http://www.igospartners.org/docs/theme_reports/IGOS2.DOC

http://www.actewagl.com.au/Education/Water/default.aspx

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain. Oleh sebab itu manusia membutuhkan sarana untuk bisa berinteraksi dengan orang lain untuk mencapai tujuannya, salah satunya adalah komunikasi. Williams (1984), sebagaimana yang dikutip oleh Yuhana dkk.1 (2006), mengidentifikasi lima alasan mengapa kita perlu memahami komunikasi sebagai berikut:
1. Komunikasi penting bagi kehidupan manusia secara personal
2. Kita tidak dapat tidak berkomunikasi
3. Komunikasi adalah dasar bagi pengembangan dan pemantapan hubungan interpersonal
4. Manusia adalah konsumen komunikasi
5. Komunikasi meningkat secara tajam dalam penyelenggaraan organisasi modern.
Dalam proses komunikasi, hal yang mutlak diperhatikan adalah tingkat keefektifan komunikasi. Komunikasi dikatakan efektif apabila makna yang ada pada sumber pesan sama dengan makna yang ditangkap oleh penerima pesan. Makna pesan sangat tergantung pada lingkungan di mana pihak yang terlibat dalam proses komunikasi tinggal dan dibesarkan. Budaya di suatu daerah dapat menyebabkan timbulnya makna yang berbeda mengenai suatu kata dengan budaya di daerah lain.
1) Ida Yuhana, Ninuk Purnaningsih, dan Siti Sugiah Mugniesyah
Mengadaptasi pendapat Mulyana dan Rakhmat (2006), adanya globalisasi menyebabkan kontak antarbudaya tidak terhindarkan. Ketika satu budaya berbaur dengan budaya lain, atau subbudaya satu berinteraksi dengan subbudaya lainnya, dibutuhkan suatu sarana agar keduanya memperoleh suatu pemahaman yang sama. Yang dibutuhkan dalam hal ini adalah adanya komunikasi antarbudaya. Oleh sebab itu pemahaman mengenai komunikasi antarbudaya penting untuk diketahui.

B. Perumusan Masalah
1. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi keefektifan komunikasi?
2. Apa yang dapat membantu mengefektifkan komunikasi antarbudaya?

C. Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini antara lain adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keefektifan komunikasi dan menganalisis hal-hal yang dapat membantu mengefektifkan proses komunikasi antarbudaya.

D. Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi ilmu pengetahuan berupa pengetahuan tentang komunikasi dan komunkasi antarbudaya, serta bermanfaat bagi masyarakat dalam memudahkan dan mengefektifkan komunikasi antarbudaya.

BAB II
TEORI DAN PEMBAHASAN

Secara umum komunikasi diartikan sebagai suatu proses sosial di mana terjadi pertukaran pesan yang pada akhirnya mencapai suatu kesamaan makna. Everett M. Rogers bersama Lawrence Kincaid (1981) dalam Cangara (2006)1 mengembangkan definisi komunikasi, yaitu suatu proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. Sedangkan Mulyana dan Rakhmat (2006)2 mendefinisikan komunikasi sebagai apa yang terjadi bila makna diberikan kepada suatu perilaku.
Lebih lanjut, Mulyana dan Rakhmat mengemukakan unsur-unsur yang terdapat dalam komunikasi, yang dijelaskan dalam Tabel 1. berikut.
Tabel 1. Unsur-Unsur Komunikasi
No. Unsur Komunikasi Penjelasan
1. Sumber orang yang mempunyai suatu kebutuhan untuk berkomunikasi
2. Encoding suatu kegiatan internal seseorang untuk memilih dan merancang perilaku verbal dan nonverbalnya yang sesuai dengan aturan-aturan tata bahasa dan sintaksis guna menciptakan suatu pesan
3. Pesan terdiri dari lambing-lambang verbal dan atau nonverbal yang mewakili perasaan dan pikiran sumber
4. Saluran alat fisik yang memindahkan pesan dari sumber ke penerima
5. Penerima orang yang menerima pesann dan sebagai akibatnya menjadi terhubung dengan sumber pesan
6. Decoding proses internal penerima dan pemberian makna kepada perilaku sumber yang mewakili perasaan dan perasaan sumber
7. Respon penerima apa yang penerima lakukan setelah ia menerima pesan
8. Umpan balik informasi yang tersedia bagi sumber yang memungkinkannya menilai keefektifan komunikasi yang dilakukannya untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian atau perbaikan-perbaikan dalam komunikasi selanjutnya
Sumber: Dr. Deddy Mulyana, M.A. dan Drs. Jalaluddin Rakhmat, M. Sc, Komunikasi Antarbudaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006)

Dan Yuhana dkk. (2006)3 menambahkan satu unsur lain, yaitu gangguan, sesuatu yang mengganggu kualitas pesan atau isyarat.
Yang paling berpengaruh dalam efektifitas komunikasi adalah faktor pesan. Yuhana dkk. (2006) membagi pesan menjadi 3 aspek, antara lain kode pesan, isi pesan, dan perlakuan terhadap pesan. Dari ketiga aspek ini, yang paling berpengaruh dalam efektifitas komunikasi adalah kode pesan, di mana komunikator menyampaikan pesan melalui simbol-simbol yang mewakili isi pesan tersebut. Sedangkan telah kita ketahui bahwa makna dari simbol pesan bisa berbeda antara satu individu dengan individu lain, karena makna tidak bisa ditransfer, hanya bisa disampaikan melalui perwakilan simbol-simbol. Di samping itu, terdapat juga jenis-jenis komunikasi, yang dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2. Jenis-Jenis Komunikasi
Vokal Nonvokal
Verbal Verbal-vokal
Contoh : bercakap-cakap Verbal-nonvokal
Contoh : tulisan
Nonverbal Nonverbal-vokal
Contoh : menggerutu Nonverbal-nonvokal
Contoh : isyarat
Sumber: Yuhana dkk., Dasar-Dasar Komunikasi (KPM 210) (Bogor: Departemen Konunikasi dan Pengembangan Masyarakat, 2006)

Mulyana dan Rakhmat (2006) menjelaskan bahwa ada kaitan yang erat antara budaya dan komunikasi. Mulyana dan Rakhmat mendefinisikan budaya sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peran, hubungan ruang, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi ke generasi melalui usaha individu maupun kelompok. Sedangkan subbudaya atau subkultur adalah suau komunitas rasial, etnik, regional, ekonomi atau sosial yang memperlihatkan pola perilaku yang membedakannya dengan subkultur-subkultur lainnya dalam suatu budaya atau masyarakat yang melingkupinya.
Mulyana dan Rakhmat mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai komunikasi yang terjadi bila produsen pesan adalah anggota satu budaya dan penerimanya adalah anggota budaya lain. Sedangkan Afdhal (2005) mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai kemampuan untuk berinteraksi secara verbal dan non-verbal dengan mengirim, menerima dan melakukan dekod, pesan-pesan secara tepat.
Lebih lanjut, Mulyana dan Rakhmat menyatakan bahwa komunikasi antarbudaya lebih inklusif daripada komunikasi antaretnik atau antararas, karena bidang yang dipelajarinya tidak sekedar komunikasi antara dua kelompok etnik atau kelompok ras. Komunikasi antarbudaya lebih informal, personal, dan tidak selalu bersifat antarbangsa/antarnegara.
Dalam komunikasi terdapat gangguan-gangguan yang dapat mempengaruhi proses pemberian makna. Terkait dengan komunikasi antarbudaya, gangguan yang paling berperan adalah gangguan budaya, yang menurut Cangara (1998) terjadi akibat adanya perbedaan norma, kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pihak-pihak yang terlibat dalam komunikasi. Suatu budaya cenderung menerima informasi dari sumber yang banyak memiliki kesamaan dengan budayanya, seperti bahasa, agama dan kebiasaan-kebiasaan lainnya.
Dalam kajian komunikasi antarbudaya, menurut Michell R. Hammer, Williams B. Gudykunst, dan Richard L. Wiseman dalam Antoni (2004), efektifitas komunikasi antarbudaya dipengaruhi oleh tiga dimensi. Dimensi-dimensi tersebut adalah kemampuan untuk berurusan dengan stres psikologis, keterampilan dalam berkomunikasi secara efektif dan tepat, serta kecakapan dalam membangun hubungan interpersonal.
Oepen (1988: 175) sebagaimana yang dikutip oleh Mulyana dan Rakhmat (2006) menceritakan pengalaman YIS, sebuah organisasi perencana komunikasi di Jawa Tengah. Organisasi tersebut ingin mengajarkan teknik-teknik menghadapi bencana alam pada penduduk Indonesia Timur yang daerah tempat tinggalnya sering terkena bencana alam.
”… menimbang bahwa rata-rata pendidikan khalayak rendah, YIS memutuskan untuk menggunakan gambar. … Sebelum ”dimasyarakatkan”, gambar-gambar itu dipraujikan pada wakil-wakil kelompok sasaran. Mengejutkan, mereka memperhatikan apa yang tidak dierhatikan oleh perencana gambar. Orang desa sasaran ternyata tidak memahami persepsi. Seorang wanita wanita mempertanyakan apakah orang yang berbadan besar (di bagian depan gambar) bisa masuk rumah yang kecil (gambar rumah sebagai latar belakang)”, begitu cerita Mary Johnston, salah seorang perancang pesan YIS. Ketika gambar karikatur diperlihatkan, reksinya menggelikan. ”setelah tertawa-tawa kecil dan omong-omong ke sana-kemari seorang pemimpin tradisional akhirnya menyatakan bahwa yang ada dalam gambar itu adalah ’setan’”, tulis Johnston (dalam Oepen, 1988: 175).” (Mulyana dan Rakhmat, 2006: 241)

Sebagaimana dikemukakan oleh Mulyana dan Rakhmat (2006), inti masalah komunikasi antarbudaya adalah perbedaan latar belakang kultural dalam menafsirkan pesan, karena tidak ada bahasa universal—baik verbal maupun nonverbal, serta kesalahan dalam persepsi sosial yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan budaya yang mempengaruhi proses persepsi. Nilam W. Juga menyatakan bahwa dalam komunikasi antardua pihak yang berbeda budaya terdapat etnosentrisme, yaitu kecenderungan menganggap salah satu budaya lebih baik atau lebih unggul dari budaya lain. Dari pendapat-pendapat ini dapat kita simpulkan bahwa permasalahan dalam komunikasi antarbudaya adalah perbedaan latar belakang kultural, persepsi, dan etnosentrisme. Untuk itulah, mengadaptasi pendapat Mulyana dan Rakhmat (2006), solusi yang tepat untuk mengefektifkan komunikasi antarbudaya adalah dengan mengetahui pola-pola penafsiran pesan dari budaya yang berlainan serta meminimalis bias penilaian dan persepsi interpersonal, agar tidak terjebak dalam stereotip, yang menurut Yuhana dkk. (2006) diartikan sebagai suatu proses penyederhanaan dan generalisasi perilaku individu-individu dari anggota kelompok tertentu (etnis/ras, agama, suku bangsa, jenis kelamin/gender, pekerjaan dan lainnya). Myron dkk. dalam Antoni (2004) juga menyatakan bahwa dalam komunikasi antarbudaya sebaiknya komunikator dan komunikan menggabungkan komponen emosional atau motivasional dari budaya, dan berusaha untuk mengatasi atau mengatur ketegangan atau kecemasan yang tidak dapat dielakkan terjadi pada banyak pertemuan antarbudaya agar komunikasi menjadi efektif.

1) Prof. Dr. H. Hafied Cangara, Msc, Pengantar Ilmu Komuikasi (Jakarta: Rajawali Pers, 2006), hal. 19.
2) Dr. Deddy Mulyana, M.A. dan Drs. Jalaluddin Rakhmat, M. Sc, Komunikasi Antarbudaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hal. 13.
3) Modul Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam proses komunikasi terdapat beberapa unsur, antara lain sumber, encoding, pesan, saluran, penerima, decoding, respon penerima, umpan balik, serta gangguan. Kesembilan unsur ini mempengaruhi keefektifan proses komunikasi, namun yang paling berperan penting adalah unsur pesan dan gangguan. Untuk mencapai efektifitas komunikasi antarbudaya antara lain dengan mengetahui pola-pola penafsiran pesan dari budaya yang berlainan agar tidak terjebak dalam stereotip, menggabungkan komponen emosional atau motivasional budaya, dan berusaha untuk mengatasi atau mengatur ketegangan atau kecemasan yang dapat terjadi pada banyak pertemuan antarbudaya.

B. Saran
Ketika individu atau masyarakat terlibat dalam komunikasi antarbudaya, sebaiknya individu atau masyarakat tersebut memperhatikan dan mempertimbangkan budaya lawan bicaranya untuk mengurangi ketidakefektifan komunikasi. Untuk penelitian selanjutnya mengenai komunikasi antarbudaya sebaiknya peneliti memperbanyak studi pustaka agar hasil yang didapat juga maksimal.

DAFTAR PUSTAKA

Afdhal Ahmad Fuad. 2005. Tips & Trik Public Relation. Grasindo: Jakarta.

Antoni. 2004. Riuhnya Persimpangan Itu: Profil dan Pemikiran Para Penggagas Kajian Ilmu Komunikasi. Tiga Serangkai: Jakarta.

Cangara Hafied. 2006. Pengantar Ilmu Komunikasi. Rajawali Pers: Jakarta.

Mulyana Deddy dan Jalaluddin Rakhmat [Ed]. 2006. Komunikasi Antarbudaya: Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. Remaja Rosdakarya: Bandung.

W. M.m Nilam. PsikologiPopuler: Membangun Hubungan Antar-Manusia. http://books.google.com/books?id=tjpEXbawm2sC&pg=PA108&dq=efektivitas+KOMUNIKASI+ANTARBUDAYA&lr=&cd=9#v=onepage&q=&f=false [terhubung berkala]. 5 januari 2010.

Yuhana Ida, et all. 2006. Dasar-Dasar Komunikasi (KPM 210). Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB: Bogor.